Tag Archives: #featured

Pesilat Tangguh Mahasiswa Sastra Inggris Unimus

Semarang (16/12/19), Berkomitmen menekuni seni bela diri saat sekolah menengah, Arif Rohman, atau lebih akrab disapa Arif tumbuh menjadi salah satu pesilat tangguh di Perguruan Silat Tapak Suci Putra Muhammdiyah Unimus. Arif merupakan salah satu mahasiswa S1 Sastra Inggris Fakultas Bahasa dan Budaya Asing.

Beberapa waktu lalu, Arif menyabet medali emas di ajang Semarang Open 2019, ajang dimana semua perguruan silat di Indonesia berkumpul dan saling bertanding.

Perjalanan karir silat Arif tidak semulus yang banyak orang lihat. Dia beberapa kali mengalami kegagalan dalam perlombaan dan cidera parah ketika berlatih maupun di gelanggang pertandingan. Namun, hal tersebut tidak menyurutkan semangatnya untuk terus berlatih dan menekuni dunia silat. “Tidak pernah saya berfikir untuk meninggalkan dunia silat, tidak peduli sebanyak apa saya gagal. Semoga kawan-kawan tidak lekas putus asa ketika gagal, karena seperti yang kita ketahui, kegagalan hanyalah keberhasilan yang tertunda. Gagal? Coba lagi! Jatuh? Bangkit lagi! Begitu seterusnya.” ujarnya

Kuliah Tamu dari Kanada

[Semarang], Program Studi Sastra Inggris mengadakan kuliah tamu yang bertemakan tentang pengelolaan organisasi dan strategi karir masa depan. Kuliah tamu ini menghadirkan Ancessi Camile dan Azeem dari Canada.

Kuliah tamu berlangsung dalam dua hari, yaitu 5 November dan 12 November. Pada tanggal 5 November, mahasiswa diberikan ilmu tentang struktur organisasi, bagaimana menyusun suatu acara, dan bagaimana membuat relasi ke para donatur. Sedangkan tanggal 12 November, mahasiswa belajar tentang bagaimana membuat CV atau biodata diri untuk menunjang karir setelah lulus dari Sastra Inggris Unimus.

Dalam proses pembelajarannya, bahasa yang digunakan adalah bahasa inggris sehingga acara tersebut juga sekaligus mengasah kemampuan berbicara dalam bahasa inggris.


Mahasiswa Sastra Inggris Unimus Sabet Medali Emas Kejuaraan Wall Climbing

Mahasiswa sastra inggris Universitas Muhammdiyah Semarang berhasil memenangkan ajang Economic Open Climbing Contest (EOCC) tingkat Nasional di Universitas Mataram. Dia adalah Cipto Saputra, seorang mahasiswa semester 5. Dengan sistem perlombaan speed world record, Cipto mencatatkan waktu 6,46 detik pada babak 4 besar dan 6,30 detik di babak di final.

Untuk bisa mencatatkan waktu tersebut, Cipto memiliki jadwal latihan yang padat. Senin-kamis melatih fisik, dan jumat-minggu latihan memanjat tebing. Sebagai seorang atlet panjat tebing, Cipto termotivasi untuk mengikuti ajang kompetisi panjang tebing agar terus menjadi atlet yang berkembang.

Keberhasilan Cipto Saputra menunjukan bahwa Sastra Inggris Unimus tidak hanya berprestasi di dunia kesusasteraan, tapi mahasiswa Sastra Inggris Unimus bisa berprestasi dalam bidang apapun, termasuk bidang olahraga.

Cipto Saputra berdiri di Podium Juara 1
Cipto Bersama Para Kompetitor
Cipto Persiapan Wall Climbing

DILEMA (Diskusi Lesehan Mahasiswa)

Unimus—Jumat, 19 Juli 2019, telah dilaksanakan Diskusi Lesehan Mahasiswa dengan tema “Politik, Sastra, dan Masa Depan Indonesia”. Mengundang sastrawan senior dari Semarang, Wahyono Gunung Mahesa, dan mahasiswa Sastra Inggris Unimus, Untung Prasetyo Ilham, diskusi berjalan dengan lancar. Diskusi yang dihadiri oleh mahasiswa sastra Inggris dan perwakilan dari ormawa se-Unimus ini berlangsung dari pukul 16.00 hingga 17.00. Pokok bahasan yang diangkat sangat menarik sehingga dalam waktu satu jam, ilmu yang didapat sudah sangat beragam.
Sastra yang menjadi pedang bermata dua dapat digunakan sebagai alat untuk mengkritisi pemerintahan maupun sistem , namun di sisi lain sastra dapat digunakan pula oleh penguasa untuk bisa melanggengkan kekuasaannya. Seperti yg dicontohkan dalam kitab Andapura misalnya yang berisi kebaikan suatu masa pemerintahan, dan juga tulisan Chairil Anwar dan Pramudya Ananta Toer yang berisi perlawanan. Kitab Andapura di mata Mas Gunung tanpa di sadari berperan besar dalam melanggengkan kekuasaan karena membuat rakyat patuh pada peraturan yang ada. Sehingga contoh tersebut merupakan bentuk tulisan yang mendukung pemerintahan. Sedangkan contoh lain yakni tulisan-tulisan dari Pram, Chairil Anwar dan WS Rendra yang merupakan bentuk perlawanan pada pemerintahan.
Disampaikan pula bahwa sastra sudah berkembang sedemikian rupa menjadi seni yg biasa kita nikmati dimana-mana. Sastra berkembang sangat pesat dan komersialisasi karya sastra merupakan suatu bentuk keniscayaan.

Sehingga yang menjadi tanggung jawab bagi kita semua adalah, bukan hanya menikmati karya sastra sebatas hiburan, tapi perlu adanya pemahaman nilai-nilai historis di dalamnya pengenalan lebih mendalam pada tokoh2nya dan kosep serta ideologi mereka.

Sastra tidak pernah mati, tokoh-tokohnya juga tidak pernah mati. Satu hal yang mati adalah kesadaran kita terhadap pentingnya sastra dalam kehidupan di era ini.
Marilah kawan-kawan kita renungkan, hidupkan sastra di hati kita. Sastra memiliki dampak yang luar biasa. Menulislah, berkaryalah. Menulis adalah bentuk perlawanan. Entah itu perlawanan pada diri sendiri maupun perlawanan terhadap ketidaksesuaian pada tatanan